Zakat Munding di Masjid Agung Bandung


Di masa lalu, Alun-Alun Bandung pernah menjadi tempat berkumpulnya para kerbau di ujung bulan Ramadan. Kerbau-kerbau tersebut merupakan barang zakat yang disetorkan kepada amil di Mesjid Agung.

Andreas de Wilde, seorang tuan tanah di Bandung yang pernah menjadi Asisten Residen Priangan mencatat keberadaan zakat ini di awal abad 19. Setiap 30 ekor kerbau yang dimiliki petani harus dibayarkan zakatnya sebanyak 1 Rijksdaalders, atau membayar 1 dukat emas jika memiliki 10 ekor.

Banyaknya perompak dan begal di perjalanan menuju kota Bandung saat itu membuat para pembayar zakat memilih membayar dengan kerbau hidup dibanding uang tunai. Alhasil, alun-alun menjadi tempat parkir para kerbau saat hari raya menjelang.

Dalam sekejap, alun-alun kemudian dipenuhi oleh kotoran kerbau. Keadaan ini membuat kesibukan baru bagi para petugas Masjid Agung, karena lapangan alun-alun akan dijadikan tempat menjalankan shalat Ied.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *