Taman Abdi Negara, di Ujung Musim Hujan

Hari itu, langit Bandung cukup cerah, seperti apa yang telah diramalkan sebelumnya oleh pemerintah. Tidak seperti waktu sebelumnya, kini hujan hanya sesekali membasahi kota dan sekitarnya. Suara serangga bernama tongeret pun mulai memainkan alat musik di tubuhnya, seolah memberi tanda, bahwa musim hujan akan segera menemukan ujungnya.

Kamis, 29 Maret 2018, saya bersama dua senior dari Aleut (@KomunitasAleut), yaitu mang Asep dan bi Kania mencoba menyusuri Sungai Cisanggarung. Kami masuk dari Pasir Impun menuju arah utara dengan beberapa titik tujuan yang berhasil kami capai.

Titik pertama yang kami kunjungi adalah taman yang ada di sebuah bukit, yang bernama Taman Abdi Negara. Taman ini berada di pinggir Jalan Pasir Impun yang secara administratif berada di Kelurahan Pasirimpun, Kec. Mandalajati, Kotamadya Bandung.

Sisa prasasti peresmian Taman Abdi Negara

Menurut mang Asep, taman tersebut berbentuk bukit karena dibangun di atas tumpukan sampah bekas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Impun. Taman kota yang hanya beberapa menit dari jalan Raya Pos ini, diresmikan 12 Desember 2006, oleh Walikota Bandung dan Gubernur Jawa Barat saat itu, Dada Rosada dan Danny Setiawan.

Beberapa anak sekolah bermain di antara paving block taman yang sudah usang dan ditumbuhi rumput. Sementara, terlihat prasasti peresmian taman telah rusak dan tinggal menyisakan nama Pasir Impun, seperti gambar di atas. TPA Pasir Impun ditutup pada tahun 1999, setelah beroperasi selama 10 tahun. Setelah itu, TPA ini digunakan sebagai tempat membuang sampah darurat dari kota Bandung, termasuk saat terjadi peristiwa di TPA Leuwigajah. Mang Asep menambahkan, di sebelah barat Pasir Impun, tepatnya di Jatihandap, Mandalajati, pernah juga ada TPA bernama TPA Cicabe.

Sebagian pohon yang ditanam di Taman Abdi Negara

Di taman Abdi Negara ini, ditamani beberapa pohon, seperti Bintaro (Cerbela Odollam), Hamelia Patens, Elaeis Guianensis, dll. Selain itu, terdapat fasilitas taman seperti jogging track dan Gazebo. Saat kami mengelilingi taman, suara Tongeret (hewan dari sub ordo Cicadomorpha) sambung menyambung memenuhi telinga kami.

Gunung Malabar dari Taman Abdi Negara

Dari kejauhan, beberapa gunung terlihat, seperi Manglayang di timur, bukit-bukit Pematang Tengah di sebelah barat, dan Gunung Malabar, yang dengan angkuh menjulang di Selatan. Sementara di bawah, kota Bandung terhampar sangat luas. Sayangnya, taman yang juga berfungsi sebagai taman kota ini terlihat terbengkalai dan kotor. Di beberapa titik, banyak sekali bungkus obat batuk berserakan di jalan. Belum lagi, beberapa lapak penjual yang dibiarkan kosong cukup mengganggu pemandangan. Semuanya membuat suasana menjadi terasa tidak nyaman.

Keadaan di Taman Abdi Negara

Sementara matahari mulai meninggi, para tongeret masih setia bermain musik menyambut pergantian musim. Setelah melihat-lihat taman, kami pun melanjutkan perjalanan, menuju tujuan kami selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *