Stadion GBLA dan Sejarah Kawasan Gedebage

Sampai akhir abad 19, kawasan Gedebage ini masih berupa rawa-rawa bernama Moeras Geger Hanjuang. Rawa ini merupakan bekas Danau Bandung Purba. Gedebage menurut sejarawan Nina Lubis berarti kebahagian yang besar.

Faktor ekonomi mendorong pemerintah Kabupaten Bandung mengubah rawa-rawa menjadi persawahan. Dari batas luar kota Bandung, persawahan ini terbentang sampai Cicalengka. Tanda lain bahwa daerah ini pernah memiliki air yang melimpah terlihat dari toponimi daerah sekitar yang banyak menggunakan kata Ranca atai Ci.

Setelah dibelah oleh jalur tel kereta api di sekitar tahun 1984, pembangunan jalan Soekarno Hatta di akhir 70-an semakin membuka kawasan ini. Perumahan-perumahan dan perkantoran pun mulai bermunculan. Di awal tahun 90-an, pemerintah membangun jalan tol untuk memperpendek jarak Padalarang dan Cileunyi dan mengurangi kemacetan di kota Bandung.

Kebutuhan atas sarana olahraga yang lebih besar kemudian mendorong pemerintah kota membangun stadion di sini. Stadion Gelora Bandung Lautan Api, dimulai pembangunannya sejak peletakan batu pertama, 21 Mei 2008. Stadion yang pembangunannya menelan biaya 545 miliar ini selesai dan kemudian diresmikan 10 Mei 2013.

Kata Bandung Lautan Api diperkenalkan oleh wartawan Suara Merdeka Atje Bastaman. Wartawan muda itu menjadi salah satu saksi dari sekian banyak saksi sejarah pembakaran kota Bandung ari kejauhan. Di surat kabarnya tertanggal 26 Maret 1946, Atje menuliskan peristiwa legendaria itu dengan judul Bandoeng Djadi Laoetan Api.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *