Rajamandala, Stasiun yang Perlahan Dilupa

Jalan Ciburahol, batas Kelurahan Mandalasari dan Rajamandala Kulon itu sangat mulus dengan lapisan beton. Jalan menuju Stasiun Rajamandala ini terkadang ramai, oleh lalu lalang truk sampah yang menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Tercatat, semua daerah administratif di Bandung Raya membuang sampah ke TPA ini. Seiring truk-truk berkonvoi lewat, bau tak sedap pun segera menyengat.

Stasiun Rajamandala berjarak sekitar 1 km dari Jalan Raya Bandung Cianjur, ke arah utara. Stasiun ini merupakan satu bangunan yang menaungi ruangan penjual tiket dan ruang tunggu. Di peron, stasiun ini hanya melayani rel tunggal saja. Tidak ada tempat bagi kereta lain untuk menunggu seandainya terjadi persilangan.

Pihak Staatsspoorwegen sebagai perusahaan operator dan pembangun jaringan kereta api di Hindia Belanda membangun jalur KA Cianjur Bandung melalui daerah Rajamandala. Jalur ini merupakan bagian dari pembangunan rel antara Bogor menuju Cicalengka yang dibuka pada semester terakhir tahun 1884.

Beberapa puluh tahun sebelum dilalui jalur kereta api, Rajamandala menjadi kawasan terbuka setelah dilalui oleh pembangunan Jalan Raya Pos yang dibuat di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels. Lepas dari Cipeuyeum Cianjur, Jalan Raya mengambil arah ke selatan menuju Cihea, mencari jalan termudah untuk melintasi Sungai Ci Tarum sebelum masuk wilayah Kabupaten Bandung. Selepas Cihea, Jalan yang kini menyisakan jalan kecil itu menuju Rajamandala ke arah utara. Baca pula: Jembatan Citarum Lama dan Tanjakan Yang Melegenda

Jalan kecil itu memang menjadi jalan perkampungan. Pasalnya, pemerintah membangun jalan bebas hambatan yang menghubungkan Cipeuyeum dan Rajamandala, dengan jembatan tinggi di atas sungai Ci Tarum di tahun 70-an. Dilalui jalan raya yang ramai, Rajamandala cukup sibuk dan berkembang. Belum lagi, persimpangan ke arah bendungan Saguling menambah ramai kawasan paling barat Kabupaten Bandung Barat ini.

Keadaan kota Rajamandala yang ramai berbanding terbalik dengan keadaan stasiunnya. Stasiun yang berada di ketinggian +319 mdpl ini sepi karena tidak punya aktifitas lagi sejak kereta api dari Bandung menuju Cianjur dihentikan sementara oleh pemerintah.

Karena dihentikan belum lama dan ada wacana untuk diaktifkan kembali, stasiun beserta perangkat infrastrukturnya masih cukup lengkap. Keadaan ini tentu saja berbeda dengan kondisi stasiun-stasiun di jalur yang mati di sekitar tahun 80-an. Di sana masih ada rel satu jalur bertahun pembuatan 1920-an, dengan bantalan besi yang sedikit tenggelam dan ditumbuhi rumput, juga ada tiang sinyal yang masih cukup kokoh berdiri.

Entah kapan jalur ini akan dihidupkan kembali. Sementara jalur ini mati, stasiun Rajamadala terus berdiri, sendiri, menanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *