PLH Cilebut Bogor, dan Sejarah Jalur KA di Priangan

Minggu, 10 Maret 2019, terjadi Peristiwa Luar Biasa Hebat (PLH) yang melibatkan Kereta Rel Listrik KA 1722. Kecelakaan ini diakibatkan anjloknya KA yang melayani relasi Jatinegara-Bogor di petak antara Stasiun Cilebut dan Stasiun Bogor.

Stasiun Cilebut berada pada jalur kereta api Manggarai menuju Bogor. Jalur ini merupakan jalur bekas peninggalan perusahan kereta api di masa Hindia Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Karena alasan ekonomi, perusahaan yang pertama membangun jalur kereta api di Pulau Jawa ini membangun jalur yang merupakan jalur perintis menuju Priangan. Sebelumnya, NISM membuat jalur perintis di Jawa bagian tengah yang menghubungkan Kemijen, Semarang dan Tanggung yang dibuka pada tanggal 10 Agustus 1867.

Priangan di masa itu, merupakan daerah yang masih terisolasi. Setelah diserahkan oleh Mataram kepada VOC di tahun 1677 dan 1705, Priangan menjadi daerah bawahan perusahaan Dagang Hindia Timur atau yang kita kenal dengan VOC. Penguasaan ini memudahkan VOC untuk melakukan eksploitasi terhadap Priangan, termasuk menjalankan tanam paksa kopi di pertengahan abad 18.

Peralihan penguasaan atas Priangan dari VOC, Perancis, Inggris, dan Belanda tidak mengurangi kewajiban Priangan untuk menjadi sumber pundi-pundi orang-orang kulit putih. Setelah jaman modern tiba, Priangan yang sulit untuk diakses itu mulai terbuka dengan akses kuda besi, atau kereta api. Datangnya kereta api ke Priangan memperlancar transportasi, baik manusia maupun barang, setelah sebelumnya terhambat meski Daendels membangun Jalan Raya Pos di tahun 1809.

Melihat peluang yang terbuka, NISM kembali ingin mengulangi prestasinya membangun Jalur kereta api dari pelabuhan menuju pedalaman. Kali ini, mereka membuka jalur dari Batavia menuju kota di tepi Priangan, Buitenzorg, atau yang kini dikenal dengan nama Bogor. Atas surat tertanggal 27 Maret 1864, NISM berhak atas pembuatan jalur kereta api yang menghubungkan kedua kota.

Walaupun mendapat konsesi di tahun 1864, NISM baru memulai pembangunan jalur dengan panjang 56 km ini di tahun 1869. Empat tahun kemudian, total jalur ini selesai dan dibuka pada tanggal 31 Januari 1873. Selain Stasiun Pasar Ikan sebagai Stasiun awal dan Bogor (mana) sebagai stasiun tujuan, NISM membangun stasiun-stasiun lain, termasuk Gambir, simpangan menuju Meester Cornelis (Jatinegara), Cari data Manggarai, Depok, dan Cilebut.

Terwujudnya pembangunan jalur KA antara Semarang yang berujung di Yogyakarta dan Batavia – Bogor membuat NISM menjadi perusahaan yang cukup berhasil. Mereka mampu mengembalikan dana pinjaman tanpa bunga kepada pemerintah Hindia Belanda di tahun 1894.

Keberhasilan NISM membangun jalur ke Bogor ini sebenarnya membuat mereka berniat meneruskan pembangunan ke pedalaman Priangan. Namun, konsesi yang mereka usulkan ke pemerintah pada tahun 1871 itu, ditangguhkan dan menemukan jalan buntu. Penangguhan ini menemukan jawabnnya, ketika pemerintah Hindia Belanda sendiri membangun jalur baru menuju kota pelabuhan di tenggara Jawa bagian Barat, Cilacap. Jalur dari Bogor, Bandung, menuju Kasugihan tersebut dibuat oleh perusahaan negara Staatsspoorwegen (SS), dan dibuka pada tahun 1894.

Sebelum SS membuka jalur baru Batavia Bandung yang melalui Purwakarta, jalur Batavia Bogor yang dikelola NISM masih menjadi primadona. Orang-orang yang menuju Bandung atau kota arah timur lainnya, harus menggunakan kereta api NISM menuju Bogor sebelum overstappen, berpindah menaiki kereta api perusahaan SS menuju Bandung. Keadaan ini kemudian berubah setelah jalur Karawang Purwakarta dan Padalarang berhasil dibuka oleh SS. Jalur yang lebih murah dan cepat ini menjadi andalan baru. Sebaliknya, jalur Batavia Bogor, termasuk arah menuju Sukabumi, dan Cianjur, menjadi jalur sekunder.

Untuk lebih memaksimalkan kerjanya, akhirnya SS berhasil mengakuisisi NISM di tahun 1913. Pasca akuisisi tersebut, jalur KA di Batavia mulai dielektrifikasi pada tahun 1915. Untuk memenuhi kebutuhan listriknya, pemerintah membangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air, yang sekarang bernama PLTA Ubrug di Sukabumi sebelah selatan. Proses elektrifikasi ini mencapai Stasiun Bogor di tahun 1930.

Akuisisi ini mengakhiri kejayaan NISM sebagai perusahaan pertama yang membangun jalur KA di Hindia Belanda. Dengan akuisisi ini, semua aset NISM, termasuk jalur yang menghubungkan Batavia dan Bogor dikuasai oleh SS, yang kelak menjadi perusahaan kereta api milik Indonesia, dan bernama PT KAI sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *