Nadran dalam Budaya Sunda


Dalam kamus bahasa Sunda yang disusun R.A. Danadibrata, nadran berasal dari kata kerja tadran, yaitu “kecap pagawean jarah ka kuburan karuhun bari ngawurkeun kembang di antara tetegerna; nadran sok disebut oge ngembang atawa nyekar”. (ziarah ke makam leluhur sambil menaburkan bunga di atasnya. Nadran juga sering disebut dengan menabur bunga). Menurut Hasan Mustafa, urang Sunda biasanya hanya membersihkan makam di malam pertama Puasa, dan melakukan tabur bunga di waktu Idul Fitri.

Bagi masyarakat Sunda, kebiasaan nadran merupakan kebiasaan yang baru. Pasalnya, masyarakat Sunda dahulu tidak mengenal pemujaan terhadap makam. Sebaliknya, masyarakat Jawa menjaga tradisi ini, sekalipun mereka berempat tinggal jauh dari tempat mereka berasal. Misalnya, untuk menggantikan ritual nadran, orang Jawa di Bandung tempo dulu, membuang air kembang tujuh warna di tengah perempatan jalan. Haryoto Kunto menjelaskan bahwa prosesi ini dilakukan sebagai pengganti ziarah ke makam leluhur mereka yang jauh di daerah asal mereka.

Almarhum Saleh Danasasmita menuliskan, kebudayaan masyarakat Sunda jaman dahulu adalah kebudayaan ladang (yang dalam bahasa Sunda disebut huma) bukan sawah seperti kebanyakan yang terjadi sekarang. Mereka dengan kerja keras menggantungkan hidup dengan menanam padi di ladang-ladang secara berpindah. Hal ini terjadi sebelum abad 18, sebelum masyarakat Sunda mengenal sawah.

Dalam uraian selanjutnya, Saleh Danasasmita menjelaskan, salah satu ciri masyarakat ladang adalah ketiadaan pemujaan terhadap leluhur dalam bentuk memelihara permakaman. Misalnya di Baduy, tanda makam hanya dua pohon hanjuang yang ditanam untuk menandai makam. Setelah 40 hari, tanah makam tersebut akan dilupakan dan dianggap sebagai tanah biasa.

Bagi masyarakat Sunda, seperti halnya di Kanekes, Edi S Ekajati menuliskan bahwa memuliakan leluhur berarti melaksanan amanat-amanat mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *