Melewati Puncak Cae

Perjalanan di bulan puasa kali ini, membawa penulis dan rekan-rekan dari Komunitas Aleut hinggap di atas Gunung Cae, perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut. Gunung ini berada di antara Cihawuk, Kertasari dan Puncak Drajat Garut. Dari Jalan raya Ciparay – Cibeureum kita harus berbelok ke sebuah jalan kecil ke arah timur. Setelah melewati turunan panjang di lembah Sungai Cihawuk, kita akan menemui sebuah desa dengan nama yang sama di sana. Jalanan memang belum mulus. Sesekali ada potongan-potongan jalan beton, pun ada juga jalan dengan campuran batu dan tanah, termasuk ketika memasuki kawasan Puncak Cae.

Batas Desa Cihawuk. Foto Koleksi Asri Cici/Komunitas Aleut

Dalam sejarah penangkapan pemimpin gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Puncak Cae merupakan salah satu tempat yang dijadikan markas para tentara yang sedang mengejar Kartosuwiryo. Dalam satu operasi bernama Brata Yuda dengan strategi Pagar Betis, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo berhasil ditangkap di lembah antara Gunung Geber dan Gunung Rakutak, sebelah utara Puncak Cae, 4 Juni 1962.

Penjaga Portal dari arah Puncak Cae. Foto Koleksi Hendi Abdurahman (Akay) / Komunitas Aleut

Mencapai Puncak Cae merupakan perjuangan tersendiri. Setelah melewati Sungai Cihawuk, kita akan dituntun melalui jalan yang sedikit demi sedikit menanjak. Sebelum kita dihadapkan dengan tanjakan yang sangat curam, kita harus melalui jalan dengan portal yang dibuat penduduk oleh di sana. Portal ini semacam Tol pra-bayar, dimana kita harus memberi sejumlah uang supaya portal itu dibuka. Selain dari arah Cihawuk, ada juga petugas yang menja portal untuk mencegat kendaraan yang datang dari arah Puncak Cae.

Jalan dari Cihawuk menuju Darajat merupakan jalan yang sudah ada sejak jaman kolonial. Dari sebuah peta bertarikh 1905, kita bisa melihat ada satu jalan yang menembus Puncak Cae yang berketinggian 1837 mdpl itu. Alih-alih mulus, jalan ini ternyata masih didominasi batu dan tanah, beberapa dekade setelah Indonesia merdeka.

Peta Puncak Cae, bertahun 1905

Bagi penduduk sekitar, keberadaan jalan yang menembus Puncak cae cukup membantu mobilitas mereka, terutama ekonomi. Mereka bisa menjangkau daerah Samarang dan kota Garut dengan lebih cepat. Sebelum akses jalan di Puncak Cae diperbaiki, mereka harus memutar turun ke Ciparay, kemudian naik lagi di Kamojang untuk mencapai kota Garut. Jalan Puncak Cae ini memangkas hampir 2 jam perjalanan mereka ke Garut.

“Mamang harus turun menuju Ciparay dan naik lagi ke Kamojang. Dan lagi, jalan ini akan diperbagus lagi setelah lebaran,” ujar seorang mamang bermotor yang sedang beristirahat di Puncak Cae selepas perjalanan dari arah Garut.

Curamnya jalan di sini memang membuat para pengendara membuat perhitungan-perhitungan. Pada saat kami lewati, ada sebuah jeep yang sedang diperbaiki di tengah tanjakan dengan posisi miring supaya mobil tidak lagi mundur. Dari atas, para motor yang ban motornya dirasa terlalu keras, membuang sedikit angin dari ban mereka. Mereka pun harus menunggu, satu-satu turun dari Puncak Cae menuju Barat.

Foto Koleksi Ridwan Hutagalung/Komunitas Aleut

Jika di jalur Cihawuk menuju Puncak Cae, kita dihadapkan dengan tanjakan yang buas. Kita akan menuruni turunan yang relatif landai ke arah timur, ke arah Darajat, Garut. Kawasan Darajat Garut terkenal dengan energi panas bumi yang kini dikelola oleh perusahaan asing. Di bawahnya, kawasan Darajat menjadi tujuan wisata dengan kolam renang air panasnya.

Turun dari Darajat, kami menuju Samarang dan Garut Kota. Sebelum memutuskan untuk pulang ke Bandung, pejalanan berjarak 184 km ini diselingi oleh ritual buka puasa dan berendam di kolam air panas, di Cipanas Garut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *