Cicalengka, Dewi Sartika, Sukarno, dan Kisah Sepeda Djuanda

Senja itu, entah sudah keberapa kali, saya menginjakkan kaki di Cicalengka. Yang jelas, belum pernah sekalipun saya turun di stasiun ini untuk urusan yang cukup penting. Cicalengka hanya menjadi tempat main, kabur dari sekolah, ngabuburit seperti yang saya lakukan sore itu, atau memenuhi keingintahuan akan keberadaan stasiun yang dibuka tahun 1884 itu.

Selain bangunan Stasiun dan gudang, kita bisa melihat artefak-artefak peninggalan di Cicalengka. Selain ada pemutaran kereta api, yang kini sudah direnovasi kembali, kita bisa melihat menara air untuk mengairi lokomotif. Menara air ini relatif utuh, walau sudah lama tidak berfungsi.

Seperti biasa, para penumpang langsung turun saat kereta Rel Diesel (KRD) Bandung Raya yang mereka tumpangi berhenti dan beristirahat sejenak di sana. Seketika, Gerbong langsung kosong semua, karena Cicalengka merupakan ujung tujuan paling timur kereta api kelas rakyat tersebut. Setelah tiba di sana, lokomotif akan melepaskan diri dari rangkaian dan berpindah ke ujung gerbong sebelah barat.

KRD merupakan salah satu dari dua kereta api ekonomi yang melayani penumpang di stasiun-stasiun kecil sekitar kota Bandung, di antara Stasiun Padalarang dan Cicalengka. Satu kereta api kelas ekonomi yang beroperasi sekitar Bandung adalah kereta api lokal Cibatu-Purwakarta. Keduanya berhenti di Cicalengka, stasiun yang berdiri di atas ketinggian 689 mdpl.

Dalam sejarah pembangunan kereta api di Priangan, Cicalengka merupakan ujung timur pembangunan jalur kereta api yang dibangun dari Stasiun Bogor. Stasiun ini dibuka bersamaan dengan selesainya tahap 5 pembangunan jalur tersebut tanggal 10 September 1884. Dari Cicalengka, Staatsspoorwegen (SS) sebagai perusahaan kereta api negara saat itu, kemudian membangun jalur baru ke arah timur, menuju Leles, Cibatu, dan Garut. Jalur ini merupakan bagian dari jalur yang menuju Kasugihan dan Cilacap, dan selesai pada tahun 1889.

Baca juga: Berziarah ke Mecca of Mallet

Ada berbagai cerita lama yang terpendam di kota kecamatan di timur Kabupaten Bandung itu. Ini berkenaan satu nama jalan yang menggunakan nama Dwi Sartika di sana. Kota ini merupakan tempat lahir pahlawan perempuan asal Sunda, Dewi Sartika. Pejuang pendidikan ini dilahirkan pada tanggal 4 Desember 1884 atau 3 bulan setelah kereta api dibuka di Cicalengka.

Patung dada Dewi Sartika di sebuah persimpangan di Cicalengka.

Di kota ini pula, Dewi Sartika kecil sempat tinggal di kediaman pamannya, Raden Demang Suriakarta Adiningrat (kakak dari ibunya)yang saat itu menjabat sebagai Patih Afdeling Cicalengka dan mendapat pendidikan di sana. Beliau dititipkan, setelah ayahnya, Raden Rangga Somanagara dibuang ke Ternate karena mencoba memberontak terhadap keputusan pemerintah kolonial dalam peristiwa “Peristiwa Dinamit Bandung”.

Beberapa puluh tahun kemudian, Cicalengka menjadi tempat berhentinya kereta api yang membawa Sukarno dan Gatot Mangkoepradja dari Yogyakarta. Keduanya yang ditangkap karena aktifitasnya di Partai Nasional Indonesia (PNI), diturunkan di kota terpencil itu supaya tidak terjadi kehebohan di Kota Bandung, 30 Desember 1929. Perjalanan Sukarno dan Gatot selanjutnya menuju Penjara Banceuy dilanjutkan memakai mobil.

Menurut surat kabar “De Locomotief” bertanggal 2 Maret 1903, Stasiun Cicalengka bersama Stasiun Cimahi akan ditetapkan menjadi stasiun kelas 3 di tahun 1904. Ini bersamaan pula dengan naiknya status Stopplaats Cikudapateuh menjadi halte. Di tahun 1954, Cicalengka ditetapkan sebagai stasiun kelas III A/B. Keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan DDKA No. 20493/BB/54, tanggal 16 Maret 1954.

Turntable di Stasiun Cicalengka. Sekarang, turntable ini sudah direnovasi dan bisa digunakan.

Pasca kekalahan Jepang di Perang Pasific dan Kemerdekaan Indonesia, satu per satu aset kereta api jatuh ke tangan pemuda Indonesia. Di Bandung, pemindahan aset ini ditandai oleh perebutan kantor pusat KA yang ada di Jalan Perintis Kemerdekaan sekarang, 28 September 1945. Dua hari setelahnya, para pemuda membentuk Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) sebagai lembaga sementara yang mengoperasikan kereta api di negara yang baru ini.

Secara resmi, kepengurusan DKARI ditetapkan oleh pemerintah pada tanggal 23 Januari 1946 melalui maklumat No. 1/KA dari Menteri Perhubungan RI. Organisasi ini diketuai oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja , lulusan Techische Hogeschool (TH), yang saat itu aktif di dunia pergerakan di bawah bendera Paguyuban Pasundan.

Ultimatum tentara Sekutu supaya para pejuang Republik Indonesia untuk mengosongkan Bandung berimbas ke pemindahan kantor pusat Kereta Api. Keadaan ini membuat Moh. Effendi Saleh selaku Kepala Dinas Traksi dan Material memberi saran kepada Ir. Djuanda untuk memindahkan balai besar ke luar Kota Bandung. Saran tersebut disetujui dan diputuskan bahwa dinas-dinas yang berhubungan dengan kereta api, dipindahkan ke luar kota. Dinas Administrasi dan Dinas Lalu lintas dipindahkan ke Stasiun Cisurupan, Garut Selatan; Dinas Traksi diungsikan ke Leles; dan Dinas Jalan dan Bangunan diungsikan ke Purwokerto.

Dalam hal ini, Cicalengka dijadikan batu loncatan pemindahan dinas-dinas kereta api tersebut ke arah timur Kota Bandung. Pada tanggal 23 Maret 1946, Moh Effendi sudah meninggalkan Bandung menuju Cicalenga via Majalaya untuk melakukan inspeksi gerbong-gerbong di sana. Saat Moh Effendi melakukan inspeksi keesokan harinya, beliau melihat Djuanda Kartawidjaja yang kelak menjadi Perdana Menteri Indonesia, tiba bersama Gunari Wiriodinoto di Stasiun Cicalengka, menggunakan kaos oblong dan berboncengan menggunakan sepeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *