Berziarah ke Mecca of Mallet

Sejak dahulu kala, Priangan dikenal sebagai daerah yang sangat subur dan kaya akan hasil alamnya. Keadaan ini membuat para kaum kolonial mulai memanfaatkan Priangan pasca “dihibahkannya” wilayah ini oleh Mataram. Eksploitasi Priangan pun dimulai pada tahun 1720, saat VOC menerapkan tanam paksa penanaman kopi di Priangan dengan nama Preangerstelsel.

Dipo di Stasiun Cibatu yang kosong.

Waktu berganti, pemerintahan pun berganti, tak terkecuali sistem penghisapan ekonomi. Priangan melalui bermacam-macam cara eksploitasi, dari Preangerstelsel, Cultuurstelsel, sampai investasi swasta yang didorong oleh adanya UU Agraria 1870. Proses eksploitasi ini tidak menemukan kendala dalam hal produksi dan pengerahan tenaga kerja manusianya. Masalah justru terjadi di lini distribusi. Saat barang produksi sudah siap dikirimkan, jalan-jalan di Priangan, seperti juga di wilayah Hindia Belanda lainnya, masih sangat tidak memadai. Sulitnya dan lamanya pengangkutan hasil bumi, baik yang dihasilan dari pertanian penduduk maupun perkebunan, membuat ongkos angkut membengkak dan memperlambat gerak ekonomi rakyat saat itu.

Salah satu rumah tua di sebelah timur Stasiun Cibatu.

Setelah berabad bergelut dengan masalah transportasi, kereta api pun didatangkan ke Priangan untuk mempermudah pengangkutan hasil alam seperti kopi dan teh, dan juga manusia. Pembangunan jalur kereta api ini pun membuka kaswasan-kawasan tersembunyi yang ada di Priangan, termasuk kota kecil di dekat Sungai Ci Manuk, bernama Cibatu.

Cibatu merupakan satu kecamatan di tengah Kabupaten Garut yang dilewati oleh pembangungan jalur rel kereta api di Priangan. Letaknya memang sedikit jauh dari jalan raya, baik jalan yang menghubungkan Bandung dan Malangbong, maupun jalur Bandung menuju Garut. Keheningan Cibatu kemudian terusik setelah pemerintah Hindia belanda, melalui perusahaan kereta apinya datang ke kota kecil itu saat membangun jalur KA yang menghubungkan Cicalengka dan Garut.

Potongan lokomotif CC 50 yang dipajang di Dipo Cibatu. (Sumber: koran-jakarta.com)

Selain tidak lepas dari potensi kawasan Garut yang cukup kaya, baik kaya akan hasil bumi rakyat, perkebunan, pembangunan jalur ini ternyata menggali potensi keindahan alam Garut sebagai potensi wisata. Di masa itu, Cibatu menjadi tempat transit bagi para pelancong yang ingin menikmati kota Garut yang mempunyai julukanĀ Swiss van Java.

Perlahan, Cibatu menjadi kota yang ramai dengan lalu lalang kereta api dan lokomotif uap nya sejak tahun 1889. Dalam bukunya, Ramadhan Di Priangan, Haryoto Kunto menyebutkan, jumlah penduduk Cibatu di tahun 1930 an berjumlah 3000 orang. Itu pun sebagian besarnya merupakan pegawai perusahaan kereta api negara atau Spoorstaatswegen (SS) yang rumah-rumah tuanya masih bisa kita lihat di sebelah timur stasiun.

Lokomotif Mallet, CC 50 (Sumber: world-railways.co.uk)

Perkembangan Cibatu kemudian semakin menjadi saat SS membuat jalur percabangan di Stasiun Cibatu menuju Warung Bandrek. Pembangunan Cibatu Warung Bandrek menjadi awal terhubunganya daerah Priangan dengan Maos, Cilacap, dan Yogyakarta. Sejak itu, kawasan Cibatu yang berada di tengah keheningan Priangan, menjadi terbuka dan ramai oleh lalu lalang kereta api yang mengangkut barang dan penumpang.

Jika kita mengunjungi kota Cibatu saat ini, terutama stasiun Cibatu yang terletak 612 di atas permukaan laut, kita akan melihat sisa-sisa kejayaan kereta api di masa lalu. Stasiun kelas II ini pernah menjadi rumah bagi puluhan lokomotif-lokomotif bertenaga besar yang menjelajah gunung-gunung Priangan. Stasiun Cibatu, bahkan dijuluki “Mecca of Mallet”, karena menjadi tempat pemeliharaan lokomotif-lokomotif bertenaga besar dari awal abad 20 sampai sekitar 80-an.

Loko Mallet, DD52 (Sumber: Wikimedia)

Keberadaan Kereta api di Priangan adalah tentang penaklukan jalur pegunungan. Alam yang berat membuat SS mengimpor banyak sekali lokomotif bertenaga besar untuk melayani jalur di tengah Priangan. Salah satunya, adalah lokomotif dengan sistem Mallet. Lokomotif ini mempunyai sistem mesin yang mampu menghasilkan tenaga besar dan cocok dipakai di daerah pegunungan. Tercatat, lokomotif CC 50 dengan julukan Sri Gunung pernah melayani jalur Cibatu-Garut-Cikajang. Jalur menuju stasiun Cikajang yang pernah menjadi stasiun tertinggi di Indonesia tersebut, juga dilayani oleh DD 52 yang terkenal dengan julukan Si Gombar.

Sebagai sarana pendukung stasiun dan gerak mesin-mesin penghela itu, SS membangun sebuah dipo lokomotif di Cibatu. Lalu lalang pemeliharaan sampai seratus lokomotif per hari, yang dilayani hampir 700 crew pekerja kereta api menjadi pemandangan sehari-hari stasiun Cibatu, di masa kejayaannya.

Sayangnya, kejayaan stasiun yang pernah menjadi persinggahan aktor Carlie Chaplin di tahun 1927 dan 1932 ini perlahan memudar. Seiring menurunnya pamor KA pasca kemerdekaan dan ditutupnya jalur Cibatu-Garut-Cikajang di awal tahun 80-an, stasiun yang menyandang sebagai stasiun kelas II di tahun 1954 ini menjadi stasiun yang sepi. Selain rumah-rumah yang terus menua dimakan usia. Dipo lokomotif yang sampai tahun 90-an dihuni oleh berpuluh lokomotif uap itu pun kosong. Konon, hampir seluruh lokomotifnya dijual dan dikilo sebagai besi rongsokan. Hanya tersisa satu kepala lokomotif, yang menandakan bahwa dipo itu pernah menjadi rumah bagi lokomotif-lokomotif besar.

Stasiun Cibatu sekarang hanya melayani kereta api kelas ekonomi dan lokal. Kereta api kelas ekonomi antar provinsi seperti Serayu, Kahuripan, dan Pasundan berhenti sejenak untuk menaikan dan menurunkan penumpang di stasiun ini. Sementara itu untuk kereta lokal, Cibatu menjadi titik pemberangkatan pertama dan terakhir bagi kereta api lokal Cibatu-Purwakarta. Kereta-kereta bisnis dan eksekutif tidak berhenti di Cibatu kecuali dalam kondisi yang terpaksa. Stasiun yang pernah ramai itu, kini sedang merana menyisakan nama.

Salah satu rumah dekat Stasiun Cibatu dengan gambar lokomotif uap.

Kejayaan Cibatu sebagai daerah yang pernah sibuk dengan akivitasnya kereta apinya dikenang oleh pihak perusahaan kereta api maupun penduduk setempat dengan berbagai cara. Ada beberapa tempat yang menjadi peringatan bahwa kereta api pernah berjaya di sana. Ada tugu roda kereta di depan stasiun Cibatu, dan potongan kepala lokomotif uap di dipo. Ada pula satu rumah penduduk, yang depan rumahnya dihiasi gambar lokomotif-lokomotif, yang kini telah menjadi penghuni surga di sana.

Keramaian di Cibatu, perlahan meredup, dan hanya bisa mengendap di ingatan-ingatan para penduduk tua di sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *